A Writer, Like A Boxer
"A writer, like a boxer, must stand alone. Having your words published, like entering ring. Puts your talent on display and there's nowhere to hide. The truth is revealed and sometimes the results can be disastrous."
-Erik Kernan Jr, in Resurrecting the Champ
Gambar dari sini
Di Ambang Gila
Dalam "Kegilaan dan Peradaban", Foucault menegaskan bahwa setiap orang itu gila. Kalau tidak, ia tetap gila dipandang dari sudut pandang lain. Mungkin yang membedakan adalah tingkat kegilaan pada setiap orang.
Jadi bukan sebuah keanehan bila tiba-tiba seseorang diseret dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Bila kegilaan seseorang membesar dan menjadi nyata, maka tidak ada pilihan lain selain merehabilitasinya untuk lepas dari gila.
Di zaman yang sama-sama gila, kehidupan semakin menggila. Praktik feodal pun juga tetap gila dan menggila. Manusia menjadi gila karena harta dan menggila karena cinta.
Ini sekedar catatan dan renungan dari seseorang yang nyaris gila, ditulis di kala jam kerja menggila, dan untuk teman-teman yang mungkin hampir gila.Gambar dari sini
Menopang Harapan
Dear, Olga.Tahukah kamu, huruf "O" pada namamu adalah "Obsesi"? Seorang Utsman bin Affan R.A berpesan, “Obsesi dunia itu kegelapan di hati, sedang obsesi kepada akhirat itu cahaya di hati.” Lalu apa obsesimu? Kalau boleh aku menyarankan, berobsesilah untuk selalu memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekitarmu, sampai tiba saat kamu tak sanggup melakukan apapun lagi.
Bicara obsesi, bolehkah aku memenjarakan obsesiku padamu? Meski nasib tak menghendaki, harapku akan menopang hidupmu.Huruf “L” dalam tatanan namamu berarti "Lentera". Berapa banyak orang yang membutuhkanmu untuk keluar dari gelapnya kebutaan hati mereka? Lentera bukan sembarang lentera, tapi lentera yang jadi penerang sekaligus pemuas kebutuhan cinta.Bicara lentera, bolehkah aku meminjam lenteramu? Sesekali aku tersandung, butuh terangmu untuk menuntunku.Beranjak ke huruf “G” untuk kata "Gemas". Lincah gerakmu, dalam tuturmu adalah rahasia betapa sekedar melihatmu adalah kesederhanaan dari sebuah kebahagiaan. Gemasmu lebih dari pelukan, ciuman, dan rasa suka. Ada emosi unik yang kerap kurindukan.Bicara gemas, bolehkah aku mencubit pipimu? Merahnya kusebut-sebut sebagai cinta, yang selalu digarisbawahi dalam indahnya asmara remaja.Ah, huruf terakhir memaksa untuk mengakhiri suratku. “A” adalah "Asa". Hadirmu adalah harapan, yang meniupkan roh keobsesiannya pada seorang pria yang kini menjadi tokoh pendamping utama dalam kisah hidupmu. Tokoh yang membuatku tersiksa karena bukan aku yang kelak tergeletak kaku di pelukanmu.Bicara asa, bolehkah aku berbagi denganmu? Tak banyak asa yang tersisa di diriku yang bisa membuatku lepas dari jebakan demoralitas.Dear, Olga.Ingatlah, surat ini adalah tonggak sejarah. Sebuah karya terpenting dalam modernitas hati manusia.Salam,
@omkitUntuk dokter pujaan kita semua,
Olga Leodirista --@olga_imoet
#30HariMenulisSuratCinta
Foto: Dokumen Pribadi
Escape From Freedom: Desakralisasi Keluarga
Dear Cinita.
Bila Alvin Toffler mempertanyakan makna keluarga dengan memprediksi bahwa di akhir abad 20 akan ditandai dengan makin melemahnya fungsi keluarga. Justru gue tidak perlu memaknainya. Meskipun tidak dapat dipungkiri arti keluarga semakin sulit didefinisikan, tapi bagi gue, seorang Cinita Nestiti adalah bagian dari keluarga.
Ketika Male pergi, kita berdua mengawal tim. Dengan watak dan kepribadian yang bertolak belakang, kita tetap optimis, berobsesi besar untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Kadang kita bergantung dari keberuntungan.Tapi pekerjaan mulai menjadi ubiquitous, (seakan-akan) terus mengikuti ke mana-mana, dan (seakan-akan) sulit dihindari untuk berhenti terjadi.
Gue mungkin pria yang selalu kalah. Dan akhirnya gue memutuskan untuk pergi meninggalkan lo, sebelum kekalahan berkali lipat didapat.Maaf, Cinita.
Mungkin gue tidak bisa menemani lo lebih lama berlayar bersama tim, memperbaiki dan mendandani tim, tapi meja kerja kita yang menjadi saksi bisu bagaimana petualangan kreativitas kita selama lebih dari dua tahun.Tapi jalan cerita tetap sama. Lo adalah teman yang setia, serta merta anggota keluarga yang bijaksana. Seperti kata pepatah Tiongkok lama, Keluarga adalah Mutiara. Dan seperti janji gue, sejauh apapun pelaminan lo nanti, pasti akan gue sambangi jua.
Semoga sukses, Cinita.
Terkadang ada penolakan dari diri gue untuk melihat lo terus bertahan dengan pekerjaan yang sama. Tapi tidak mengherankan bila justru ada jalan lain yang sedang lo kejar di sana. "Escape From Freedom," meminjam ungkapan Erich Fromm.
Salam Hangat,
@omkitUntuk perempuan mungil berpikiran dewasa,
Cinita Nestiti --@cinititi
#30harimenulissuratcinta
Foto: Dokumen Pribadi
Biarkan Intinya Ada di Hati Terdalam: Sebuah Preambule
Tahukah, Pakde. Hampir setahun jurnal ini diabaikan. Bahkan mungkin sudah sampai pada puncak dari ekspektasi. Pertemanan kita bahkan sudah hampir menginjak dua tahun. Dan itu jauh dari pengabaian. Meski acapkali terasa utopis, tapi pertemanan kita terus tumbuh meskipun rapuh.
Ingatkah pertama kali kita berkenalan (kembali)? Dua surat elektronik (surel) darimu mengajarkan saya makna pertemanan dan bagaimana menyandarkan diri pada masa lalu hidup. Tampak klise, tapi apa yang Pakde katakan adalah benar adanya.Mungkin selama ini hidup saya tanpa memiliki konsep yang jelas, logis, dan argumentatif. Tapi surelmu membawa cinta; sebuah paparan dari sebuah proses pengenalan dan penghayatan yang matang dari kesalahan yang terjadi pada perkenalan kita pertama dahulu.Keskeptisan saya perlahan terkikis, nestapa pun mulai mengapresiasi. Apresiasi itulah yang mengiringi kesabaran Pakde membangun pertemanan kembali dengan saya. Pertemanan yang telah menempuh perjalanan detik demi detik, bukan instan, dipaksakan, apalagi tercipta dari sim salabim atau hocus pocus.Lepas semua kisah putus-sambung silaturahim kita, kini saya ingin mengapresiasi ide-idemu yang luar biasa. Pakde sering memberdayakan hal-hal kecil dalam kehidupan. Hal-hal kecil yang membentuk diri. Hal-hal yang seringkali terlupakan. Hal-hal yang seharusnya dapat dimaknai dengan cinta dan ketulusan. Hal-hal yang menyatu dalam setiap tarikan nafas. Hal-hal yang seharusnya dapat melahirkan sebuah kontemplasi dan penyesalan diri sehingga hidup tak harus berakhir dengan tragis.Sesekali, Pakde sering bemain-main dengan kejanggalan. Namun paparan-paparanmu tak perlu ada korelasi antara keyakinan, proses, dan hasil. Kau adalah kau. Karena kau tahu, tak pernah ada kesia-siaan dalam paparan-paparanmu.Surat ini hanya preambule. Biarkan intinya ada di hati kita yang terdalam, mencoba memuncak meninggalkan jejak dalam sejarah hidup kita.Salam Hormat,Bang-Kit
Untuk pria dewasa milik kita semua,
Dedi 'Pakde' Rahyudi --@dedirahyudi
#30harimenulissuratcintaGambar dari sini - Courtesy of Diki Umbara
MILLI & NATHAN, Dua Nama Untuk Sebuah Harapan
Percintaan remaja selalu bisa menjadi kisah menarik dengan luapan emosi mendalam. Kisah tersebut akhirnya meledak meninggalkan puing-puing pertanyaan. Dan Falcon Pictures bersama sutradara Hanny R. Saputra mencoba menyajikan aura tersebut lewat film bertajuk Milli dan Nathan.
Film bergenre drama ini sendiri berkisah soal kehidupan sepasang sahabat, Milli Wiriawan dan Nathan Sastro. Bagaimana mereka berdua menjalani tahun-tahun bersama teman-teman di SMA hingga buncahan perasaan yang terealisasi dalam ikatan pacaran.Milli Wiriawan (Olivia Jensen) adalah karakter yang ceria, ramai, blak-blakan, namun sebenarnya rapuh. Karena bercita-cita menjadi penulis, selepas lulus SMA, Milli menjalani kehidupan kampus dengan setengah hati hingga akhirnya benar-benar berhenti kuliah demi menggapai cita-citanya menjadi seorang penulis.Kemudian ada Nathan Sastro (Christ Laurent), lak-laki tampan, berprestasi, pendiam, dan ambisius. Meski dikelilingi banyak teman yang selalu menyemangati, Nathan hanya percaya Milli yang bisa membawa perubahan pada hidupnya. Sehingga ketika memutuskan untuk berpisah dari Milli karena diterima di universitas idamannya, hal itu menjadi sebuah kesengsaraan yang begitu nyata kesedihannya.Hidup pun berlanjut. Milli mulai menapaki tangga kesuksesan sebagai penulis, Nathan yang menjadi seorang ‘tukang insiyur’ pun menikmati pekerjaannya. Meski hubungan yang mereka jalin mulai luntur, mereka berdua masih saling berharap. Akankah mereka bersatu?Hanny R. Saputra mengulik karakter-karakter yang ada di dalam Milli dan Nathan dengan tajam. Olivia Jensen yang memerankan tokoh Milli, berhasil ‘hijrah’ dari sosok remaja yang tanpa tujuan menjadi seorang dewasa penuh harapan. Tak terkecuali Nathan. Pemilihan busana dan aksesoris yang tepat menjadi salah satu hal yang mendukung kesuksesan transformasi peran mereka.Meski memiliki sentuhan sensitifitas yang dewasa, emosi yang dipaparkan tampil sangat manusiawi. Skenarionya pun ditulis dengan apik oleh Titien Watimena yang biasa membesut naskah film-film remaja.Milli dan Nathan juga dibintangi Frans L. Tumbuan, Minati Atmanegara, HIM Damsyik, Mario Lawalata, Fendy Chow, dan menghadirkan Dimas Beck sebagai Guest Star. Direncanakan film ini akan dirilis pada tanggal 23 Juni 2011 di bioskop seluruh Indonesia. Tentunya ini kabar baik bagi pecinta film lokal yang sudah lama mendambakan film berkualitas."Setelah matahari, setelah langit, benda yang berwarna cerah adalah harapan."
MILLI
*kesan saat menghadiri Limited Screening film MILLI & NATHAN, 11 Juni 2011 di INDIES Jakarta
*foto dari sini
1000 Bands United, My First Concert
Tak terasa, sudah hampir sebulan konser akbar 3 hari 3 malam, 1000 Bands United berakhir. Sangat bangga bisa terlibat dalam proyek luar biasa ini. Mulai dari konsep acara, penyusunan site-map, terlibat penuh sebagai editor dan tim penulis laman resmi 1000 Bands United, bertanggungjawab terhadap copy-writing berbagai atribut promo, hingga menjadi fotografer 'dadakan' untuk mendokumentasikan kegiatan. Jujur saja, 1000 Bands United adalah konser pertama yang pernah saya saksikan sepanjang hidup.
Sebenarnya 1000 Bands United sendiri awalnya merupakan sebuah proyek berlatar belakang ambisiusme. Namun akhirnya, dengan mengusung tema Bersatu Atasi Bencana, event yang berlangsung dari tanggal 17-19 Desember 2010 tersebut menyumbangkan seluruh hasil penjualan tiket kepada korban bencana alam yang terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.Bisa dikatakan acara ini merepresentasikan musik Indonesia sesungguhnya. Seribu band Indonesia berkumpul dengan membawa misi sosial, mengemban tanggung jawab sebagai seniman, musisi dan hamba Tuhan. Terlebih musik merupakan simbolisasi kebudayaan yang mampu menyatukan perbedaan. Dengan musik, tercipta solidaritas. Dan para musisi Indonesia menunjukkan kesolidaritasan dengan mempersembahkan karya terbaik mereka sebagai salah satu sumber kekayaan budaya bangsa.Semoga masih diberi usia untuk terlibat kembali dalam 1000 Bands United di tahun 2011 mendatang. Berikut beberapa momen yang saya abadikan selama gelaran berlangsung.(© bang-kit)
Yes. I Want You With Me
I have a feeling that we were meant to be together. That we have fought the good fight, side by side, in the past or in the future, I do not know. I am a rational man, but I have learned the value of a good companion, and from the moment I clapped eyes on you, I knew I trusted you as well as I do myself. Yes. I want you with me.
Gaiman, Neil (2006), "A Study in Emerald", in Fragile Things, Harper, pp. 6
Without you, every corner of my life is grieving.
There was nothing I can do while you are not in my sight.
I am sorry for everything I have done.
Despite all the mistakes, but please never giving up on me.
I will never found anyone else like you in this world.
"Be near me when I fade away,
To point the term of human strife,
And on the low dark verge of life
The twilight of eternal day."
— Alfred Lord Tennyson (In Memoriam)
Foto dari sini
Seberapa Sering Kita Memeluk Ibu?
Masihkah kita memeluk ibu? Seberapa sering kita memeluk ibu? Ingatkah kapan terakhir kali memeluk ibu? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terlupakan atau bahkan diacuhkan dalam kehidupan keseharian kita.
Memeluk adalah sebuah tindakan sederhana yang memperlihatkan kasih sayang. Pelukan merupakan bahasa tubuh yang maknanya jauh melebihi kata-kata dan komunikasi nonverbal lainnya. Tapi mengapa kita lupa memeluk ibu dan mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah ia lakukan?Pelukan dan kasih sayang sangat penting dalam sebuah hubungan. Dalam hubungan dengan orang tua, memeluk bisa membantu menjembatani kesenjangan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan memeluk membuat anak dan orang tua saling terhubung secara emosional satu sama lain dan membantu melepaskan stres.Perasaan cinta akan selalu tumbuh bila selalu melakukan kontak fisik dengan pelukan. Pelukan membuat masing-masing pribadi merasa nyaman dan membawa perasaan bahagia. Orang yang dipeluk, ataupun memeluk, merasakan adanya kekuatan cinta yang mengelilingi mereka.Harus diakui kita sering alpa akan peran serta ibu dalam kehidupan. Terkadang kita harus diiingatkan bahwa peran serta orang tua, terutama ibu tidak boleh luput dari perhatian. Sebab ibu berperan sangat penting dalam pembentukan kepribadian. Ibu merupakan sosok utama dan menjadi kunci pembaruan generasi sekaligus penanam nilai-nilai moral serta kultural pada anak-anak mereka.Memeluk ibu merupakan sebuah klaim bahwa penghormatan atas bakti para ibu di Indonesia semestinya tidak sekedar diperingati setahun sekali dalam peringatan hari ibu. Namun mengharapkan terciptanya kesadaran untuk selalu ingat akan jasa-jasanya. Lebih jauh lagi, pelukan adalah ajakan untuk selalu mengasihi orang tua kita masing-masing selagi masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di dunia ini. Hingga setiap hari kita selalu ingat untuk memeluknya seraya berkata, ”Terima kasih, ibu.”
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra: 23)
Jakarta, 15 Nopember 2010
(terinspirasi saat preview video klip single terbaru Haddad Alwi berjudul Ibu)
Foto dari sini
© bang-kit
Menulis Adalah Labirin
Ada yang tahu, berapa banyak manusia di planet bumi yang menekuni profesi sebagai penulis? Atau berapa banyak orang di sekeliling kita yang melakukan kegiatan menulis? Tanpa kita sadari, sebenarnya dunia ini penuh dengan penulis. Sebab pada dasarnya semua manusia bisa menulis. Menulis merupakan kegiatan paling dasar dalam perkembangan peradaban.
Karya tulis merupakan cagar budaya leluhur yang abadi sekaligus menjadi penanda pusat perkembangan masyarakat di seluruh negeri. Menulis menjadi simbol peradaban yang berisi elemen tradisi, etos kerja, kenangan dan hal-hal kemanusiaan lainnya. Tidak sedikit tulisan merupakan penyampaian kenyataan sejarah yang buram dan berdarah-darah akibat kebiadaban manusia.
Sebenarnya menulis tidak susah. Namun juga tidak semudah yang dibayangkan. Ibarat sebuah labirin, memasuki dunia tulis-menulis butuh keberanian dan semangat juang untuk terjebak dalam labirin kreasi. Namun selalu ada solusi untuk dapat menulis tanpa perlu takut terjebak dalam labirin kreasi yang berliku.Salah satu ‘rahasia’ yang menjadi kekuatan dalam sebuah tulisan adalah detil. Detil akan mengajak pembaca untuk memasuki alam imaji dengan memaparkan keterangan-keterangan yang jelas dalam jalinan kalimat yang luwes. Sehingga setiap kalimat terasa berharga, tanpa terasa ada kekosongan yang membuat pikiran tersekat.Proses menulis tentunya mengingatkan kita akan asal-muasal ide. Dari mana penulis mendapatkan ide? Ide merupakan titik sentral dalam proses berkelana menjelajahi tulisan. Kenangan, yang termaktub dalam pengalaman sehari-hari, kisah sedih, kisah bahagia, bahkan do’a bisa menjadi inspirasi utama dalam menulis. Kenangan merupakan sesuatu yang bisa dinikmati untuk menjaga hubungan kemanusiaan antara penulis dengan pembaca.Menjadi penulis berarti harus siap menyadari pentingnya untuk aktif bersuara tentang kemanusiaan. Selain itu harus siap menjunjung tinggi kejujuran nurani. Sebab tulisan yang jujur bisa membawa perubahan.Tak lupa, faktor kreativitas penting dalam mengembangkan tulisan. Tulisan yang stagnan dan tidak mengikuti perkembangan jaman, akan sulit melakukan perubahan.KesimpulanKegiatan menulis sesungguhnya menjadi semacam ilustrasi tentang dunia. Tulisan memberi nama pada semua hal di dunia, bukan sekedar memberi kata. Dengan menulis, manusia memulai kehidupannya.Menulis merupakan sebuah tema yang menjadi pemersatu dari unit-unit terkecil dalam kehidupan. Mencoba jadi sebentuk penekanan pada perjalanan manusia menuju gerbang pemahaman akan kemanusiaan.Menulis tidak mengenal keterbatasan. Menjadi penulis berarti memutuskan untuk tinggal di dalam suaka yang mewajibkan untuk memiliki daya juang tinggi. Menulis merupakan elemen etos kerja yang sangat dihargai dan dijunjung tinggi. Tulisan yang baik akan menciptakan kepaduan solidaritas persaudaraan yang erat, meningkatkan kemampuan beradaptasi dengan isu-isu terkini, dan membuat kehidupan tak akan pernah mati.Budaya menulis akan terus hidup di antara warna-warni kebudayaan dan peradaban manusia di seluruh dunia. Menjadi penulis adalah sebuah cita-cita mulia setiap insan untuk meraih kebebasan, kebersamaan dalam kemajemukan, dan kemerdekaan bersuara.
Jakarta 12 Oktober 2010
(Dibuat sebagai laporan saat menghadiri Citibank - Ubud Writers & Readers Festival 2010)
© bang-kit


